Memaparkan catatan dengan label Autobiografi 2010. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Autobiografi 2010. Papar semua catatan

Ahad, April 05, 2026

2 - 7 DISEMBER 2010: KE KOREA SELATAN


MENGENANGKAN sebagai kawan, tengahari itu, kerana sudah lama tidak singgah dan berbual dengannya, saya menjengah kawan pegawai ini di pejabatnya.
 
Saya memaklumkan malam ini penerbangan kami ke satu acara sastera di Korea Selatan.
 
"Eh, mereka tak maklum pun ke kita," kata kawan pegawai ini. Menyatakan terkilan kerana  pemergian kami ke sana itu di luar pengetahuan dia dan tidak melalui jabatan beliau.
 
"Tentu sahaja kalau melalui sini bukan saya yang akan ke sana," spontan saya menjawab dan berterus-terang. Tanpa niat hendak menyindir atau menunjuk sombong.
 
Ya. Saya memang tahu dan sudah diberitahu. Yang mencalonkan saya ke sana adalah Pak Maman S.Mahayana, seorang tokoh akademik dan peneliti sastera terkenal Indonesia. Beliau ketika itu seorang tenaga pengajar di sebuah universiti di sana.
 
Jika bukan kerana jasa dan kebaikan tokoh akademik sastera kawakan Indonesia ini, saya tidak akan ke Korea Selatan.
 
Lalu seperti biasa. Saya pergi diam-diam dan pulang pun diam-diam.
 
Kembali ke rumah dan ke dalam diri selepas acara selama seminggu itu, saya hanya menulis dan terus berkarya; juga diam-diam.
 
Kerana saya sedar dan tahu siapa diri saya. Hanya seorang penulis yang seadanya sahaja dan hanya ingin menjadi dirinya sendiri.
 
- BUKU Marsli N.O 
Ahad, 18.1.2026


Selasa, November 30, 2010

SAYA DAN PUISI: DARI TEMPAT LAHIR, HASRAT DAN TUJUAN

Oleh MARSLI N.O *

DUNIA masa kecil saya adalah sebuah perkebunan yang dihuni pelbagai bangsa manusia. Dunia itu kecil dan agak suram tetapi penghuninya hidup dalam suasana tenteram. Di situ saya lahir dan mengenal manusia  yang hampir senasib: miskin, kerdil dan kurang berpendidikan.

Tetapi saya tidak ingin mempersalahkan takdir kerana situasi yang sedemikian rupa. Saya tahu, banyak negara yang pernah dijajah mengalami nasib yang hampir sama dan serupa.

Di dunia kecil itu, ketika dilahirkan, saya menjadi Melayu kerana bapa dan ibu saya adalah Melayu.

Dan kini, saban tahun, tidak  begitu payah mengingat peningkatan usia saya kerana tahun kelahiran saya adalah  sinonim dengan tahun kemerdekaan negara saya.

Saya percaya dan mengerti. Kemerdekaan sebuah negeri bermakna rakyatnya bebas untuk menentukan arah dan hala pemerintahan negaranya sendiri. 

Tetapi dalam erti kata sebenarnya, apakah tidak mungkin lahir pula penjajah dalam bentuk baru yang ingin menguasai dan membentuk pemikiran rakyat agar selalu tunduk dan bersetuju. Apa lagi bila kuasa menjadi boneka dan siapa yang menguasai dianggap nabi atau wali yang tidak boleh tidak mesti dipercayai segala suruh dan perintahnya.

Kesewenangan dan sikap autorithan yang membelenggu rakyat akhirnya memburamkan wajah dan makna sebenar kemerdekaan yang selalu dicita-citakan manusia, kemerdekaan berubah menjadi utopia dan sia-sia.

Di sebuah negeri yang merdeka, nilai dan harga seorang manusia bukan hanya kerana perutnya telah sendat berisi tetapi sekaligus juga soal bagaimana otaknya diisi dan nilai-nilai kemanusiaan, hak berpolitik dan berbudayanya  juga perlu turut sama diperhitung.

Buat diri saya, kerana tidak mahu sekadar menjadi manusia yang sibuk menguruskan perutnya semata-mata, saya dengan yakin telah memilih menjadi penyair.

Walau saya tahu, menjadi seorang penyair di sebuah negeri yang sedang sibuk dan ghairah untuk menjadi maju, tidak memungkinkan saya menjadi kaya atau selalu disenangi, saya tetap juga menulis dan membacakan sajak-sajak saya.

Saya tidak peduli kalau dianggap manusia yang suka nyentrik dan syok sendiri. Apa lagi kalau seorang penyair seperti sering tidak diacuhkan di negerinya sendiri. Saya memilih untuk tidak meminta tetapi selalu ingin memberi. Diterima atau tidak, tidak pernah membuat saya berputus asa.

Sebagai individu Melayu yang menulis sajak, saya sentiasa menjunjung tinggi nilai kesejagatan dan  menentang sebarang bentuk kekangan yang bobrok dan yang bukan pada kewajarannya.

Di mata saya, setiap manusia adalah sama dan saya sentiasa ingin mengenal serta  bersahabat dengan mereka.  Dan sebagai penyair Melayu di benua Asia, saya selalu berharap agar sajak-sajak saya menjadi jambatan persaudaraan tanpa kenal batas dan sempadan.

Tetapi  menjadi Melayu, buat diri saya, adalah hidup yang selalu berdepan dengan perjuangan  serta dilema. Sebagai manusia Melayu, sejak kecil saya dididik  agar selalu besikap sopan, menghormati orang yang lebih tua dan berkuasa.

Menjadi manusia Melayu juga bermakna saya mesti selalu berbicara dengan bahasa yang merendah dan tidak membentak. Dan agar tidak sampai dianggap kurang ajar, saya mesti selalu berusaha menjadi manusia Melayu yang patuh terhadap norma dan susila ini.

Namun pada akhirnya, saya mesti memilih hala dan arah kepenyairan saya secara sendiri: bersikap berani dan memilih untuk selalu berpihak kepada kebenaran. 

Sebagai penyair  yang lahir dari sebuah dunia kecil dan suram, saya tidak ingin bersekongkol dengan sikap suka berbuat sekehendak hati atas nama politik, yang secara langsung mahupun tidak selalu memangsakan rakyat kecil dan tidak berdaya.

Kerana itulah, saya memilih untuk berteriak dan membentak melalui sajak-sajak saya. Tidak mengapa andai saya dianggap penyair yang kurang ajar dan suka membuat onar semata-mata demi sesuatu yang saya yakini sebagai hak dan benar.  Khususnya untk mereka yang tidak mampu bersuara dan selalu dihenyak kerana kekecilan dan kekerdilannya.

Walau saya tahu teriak dan bentak saya, lewat sajak-sajak saya, tidak akan mungkin menggoyahkan sebuah gunung yang kukuh, namun setidaknya, saya sudah bersuara menyatakan sesuatu yang benar dan hak.

Walau apa dan bagaimana sekalipun,  saya sudah melaksanakan tugas dan tanggungjawab saya sebagai seorang manusia yang kebetulan dianugerahi Tuhan kebolehan sebagai penyair.

 Ogos 28, 2010

* Esei untuk forum di acara Korean-ASEAN Poets Literature Festival


POEM AND I: FROM BIRTHPLACE, DESIRE AND AIMS
By MARSLI N.O

MY childhood world was a rubber plantation resides by variety of people. That world was small and quite gloomy, but the residents live peacefully. I was born there and got to know the people who shared the same fate: they were poor, inferior and quite illiterate.

But I do not want to blame fate for that kind of situation. I am fully aware that for most countries that had been colonized , they probably share almost similar fate.

In that small world,  I was born as a Malay because my parents are Malays.

And now, for each passing years, I never have difficulty to recall my age as I was born on the same year of my country’s independence.

I do believe and understand. A nation’s independence means the people are free to determine its course  and direction according to their will.

However in reality, it is possible that new form of colonialism  will try to invade the mind of the people so that they will obey and acquiesce? This is when power dominates everything and serves like a puppet. The puppeteer gains absolute power and control as the followers follow  and obey their order with an alacrity to obey the saint and the prophet. 
 
All these will spark authoritarian attitudes and rash decisions that violate individual liberties that sooner or later, will diminish the true meaning of independence that the people dream off. In the end freedom is nothing but an utopia.

In a free country, a person’s dignity does not lies solely on the matter of feeding one’s  stomach. Yet, how he feeds his brain with human values, political rights  and  culture should also be taken into consideration.

As for me, I’ve confidently decided to be a poet since I dont want to be a person who is merely engrossed in feeding hiw own stomach.

Even if I knew, in a country that is so passionate in becoming developed nation, it is impossible for a poet like me to become rich or gain any public admiration. But still, I will write and contine to recite my poem.

I don’t care if  I will be considered as eccentric or self-absorbed. Especially when a poet often is a public oblivion in his or her own country. I choose not to ask but instead always giving. Whether it is accepted or not, it will never bring me down.
 
As a Malay who writes poem, I always uphold universal values and resist any form of  limitation or corruption which inappropriate.
 .
From my perspectives, every human is equal and I will always want to know and befriend them. And as a Malay poet in Asian region, I always hope that my poems are building a foundation for friendship that has no boundaries.

But to be a Malay, it is for me, a kind of life that faces constant struggles and dillemas. As a Malay, I was taught to act in decorous manners and to respect the elders and those with influence.

Becoming a Malay means I must always speak with humilty and without raising my voice. And so that I won’t appear rude, I must always  try to become a Malay that conform to these norms and ethics.

Yet in the end, I must choose my own path as a writer: which is being bold and always uphold the truth.

 As a poet, who was born from a confined gloomy world, I wont tolerate political actions which intentionally or unintentionally victimise the opressed.
  
For these reasons, I choose to shout and snap through my poems. It does not matter for me if I am being label as a punk who incite chaos for voicing out something that I believe as true and appropriate. Especially voicing out for those who are not able to speak up and have always been marginalized just because they are the minorities and inferior compared to the rest.

Through my poems, I am fully aware that all the bursts and contstant outcries might not even melt a sturdy mountain, but at least I have voiced things which are true and rightly appropriate. 

No matter what and how it is, I have fulfilled my responsibility and duty as a human being that is coincidently gifted by God with the talent of a poet.

 Ogos 28, 2010

Translated by Marziah Ramli.

Ahad, November 28, 2010

KE KOREA DENGAN HATI DAN JIWA TERBUKA


Surat undangan rasmi
SAYA merenung bungkusan yang berisikan beberapa judul buku karya saya itu.  Di dalamnya adalah lima buku kumpulan sajak "Kepada Angin Juga", 16 buku kumpulan  sajak terjemahan saya "In The Drunk State" dan empat buku  kumpulan cerpen "Menanti Buraq".

Inilah ole-ole yang akan saya bawa bersama diri saya ketika ke Korea pada 2 hingga 7 Disember 2010 nanti.  Buku-buku ini akan saya hadiahkan, sebagai tanda ingatan dan terima kasih dari pihak diri saya kepada beberapa mereka yang saya fikir sudah terlalu banyak membantu serta berusaha keras  demi memungkinkan diri saya ke sana atas nama puisi dan penyair. 

Selebihnya selain itu, khususnya kumpulan sajak "In The Drunk State", jika masih berbaki, akan cuba saya usahakan bertukar dengan buku-buku teman-teman peserta dari negara lain.

Saya tahu dan sedar, tanpa undangan dari pihak mereka memang agak payah dan sulit untuk saya mengeluarkan wang sendiri bertandang ke luar negara.   Kemujuran dan rezeki yang dilorongkan oleh Allah SWT terhadap saya inilah yang memungkinkan saya ke luar negara lagi kali ini.

Tetapi saya sedar dan insaf. Undangan saya ke luar negara bukan atas tiket atau nama pelancongan.  Saya diundang ke sana atas nama sastera, dan kali ini puisi khususnya.  Jadi saya tidak boleh tidak mesti membawa peranan itu. Sebagai penyair, sesuai dengan hasrat dan maksud undangan mereka. Kerana  itu jugalah, ketika di sana nanti, setiap  tindakan, gerak,  tutur dan kata dan perilaku saya, mestilah sesuai dengan atau maksudnya sebagai seorang penyair.

Maka, sebagai penyair yang diundang oleh sebuah negara atas nama puisi, saya mestilah juga menjaga nama baik negara saya dan para penyairnya.
Maman S Mahayana

Walau memang pun, atau mungkin tiada siapa pun  penyair di negara saya yang akan ambil  peduli apakah saya mewakili imej mereka atau tidak ketika saya di luar negara nanti,  namun secara peribadi saya akan cuba seboleh mungkin untuk mempamerkan suatu imej yang secara jujur dan tulus, baik dan positif di mata pandangan pihak yang mengundang dan juga  teman-teman penyair yang mewakili negara masing-masing di acara itu nanti.

Saya tahu dan sedar saya di Korea bukan sebagai pelancong. Kerana  itu,   saya tidak akan mengamalkan secara berlebih-lebihan apa sahaja perilaku yang menjadi budaya sebagai pelancong ketika di luar negara: mencari wanita  peneman ketika sunyi di waktu malam, menyantaikan diri di  rumah urut atau hiburan atau berbelanja sakan sehinggakan tidak mengigati dunia!

Memang secara peribadi saya berasa beban dan tanggungjawab yang akan saya  galas  ketika di luar negara sebagai seorang penyair agak berat juga.

Tetapi bila mengenangkan  Rahimidin Zahari juga turut sama diundang dan saya tahu serta akui  Rahimidin Zahari  juga merupakan seorang penyair yang baik, jujur dan ikhlas dalam aktiviti kepenyairannya, maka  saya dapat juga sedikit  berlapang hati kerana beban untuk memikul "tugas" sebagai penjaga imej teman penyair lain di negara sendiri ketika berada di luar negara nanti,  telah turut sama dipikul oleh Rahimidin. Jadi ringanlah sedikit beban perasaan saya mengenai itu.

Sebenarnya, sepanjang penglibatan dengan seluruh isi jiwa dan raga saya sebagai sasterawan, ini bukanlah kali pertama saya ke luar negara dan diundang menyertai sesuatu acara.  Jadi pemergian kali ini memang tidak begitu banyak menimbulkan rasa gelisah dan debar di dalam diri sebenarnya.
Lim Kim Hui

Pengalaman-pengalaman sebelumnya, memang banyak membantu untuk nanti bagaimana membawa dan menguruskan diri sendiri ketika berada jauh dari negara sendiri. Malah, pengalaman beberapa kali menghadiri acara sastera di luar negara juga mengajar saya bagaimana pendekatan untuk bercakap ketika di depan forum, melayan soalan-soalan yang palsu atau yang benar dan tidak lupa juga bagaimana hendak melayan para intel yang sebok menyamar sebagai jurufoto atau petugas acara.

Malah kerana pengalaman itu jugalah saya belajar bagaimana caranya untuk kian memperteguhkan rasa cinta dan sayang  saya terhadap negara saya sendiri yang telah saya tinggalkan untuk seketika waktu.

Untuk dan kerana itu, maka saya sama sekali tidak akan mengutuk dan menghina, walau apa cara dan sebabnya negara saya sendiri.

Saya tahu kebanyakan penyair yang datang ke acara itu adalah mereka yang di negaranya sendiri telah dipilih oleh pihak pengajur. Untuk dan kerana itu, tidak mustahil kalau setiap mereka yang datang sebagai peserta itu berasa dirinya terlalu besar dan hebat dan melebihi segalanya dari segenap segi berbanding dengan  peserta dari negara lain.

Tetapi itu semua tidak sedikit pun akan  menggentarkan hati serta perasaan saya.  Saya hanya datang atas nama puisi dan ingin sebanyak-banyak beroleh kemanfaatan darinya. Soal keegoan orang lain, cabaran keadaan, atau mungkin juga cuaca yang lebih mencabar, akan cuba saya hadapi dengan hati dan jiwa terbuka.

Di sana nanti, saya  akan mewajarkan sendiri dan tidak ingin terlalu bergundah hati.

November 28, 2010

Khamis, November 25, 2010

KE KOREA DENGAN PUISI


BERMULA  2 hingga 7 Disember 2010 ini saya akan berada di Seoul, Korea Selatan. Saya ke sana sebagai penyair dan menghadiri jemputan ASEAN-Korea Poets Literature Festival.  Acara ini diselenggarakan oleh ‘The Poet Society of Asia(TPSA)’ .

Saya ke Korea dengan puisi dan saya berasa bangga kerananya. Namun jangan salah sangka.  Saya katakan saya berasa bangga itu bukanlah dengan niat dan maksud hendak menyombongkan diri dan mahu berlagak menyohorkan sesuatu yang sebenarnya tidaklah perlu sama sekali untuk dilagak dan disohorkan.

Sebaliknya, rasa bangga itu lebih kepada ingin menyata dan merakamkan penghargaan terhadap puisi dan dunianya yang sejak sekian lama saya gulati dan sedia juga menerima saya menjadi salah seorang warganya.

Kerana penerimaannya  itulah  maka saya hari ini, walaupun belum lagi sepenuhnya dan sempurna bergelar penyair tetap dengan yakin serta percaya terus menulis puisi demi puisi.

Untuk itulah juga maka saya selalu berterima kasih kepada puisi. Tanpa puisi, siapalah saya di dunia ini. Barangkali, jika tanpa puisi, dan sastera juga, saya hanyalah  seorang manusia yang hidup sehariannya hanyalah mengulangi ritual demi ritual bernama sayur.

Tetapi dengan dan kerana puisi saya berasa hidup saya selalu terisi dan bererti. Dengan dan kerana puisi tiada suatu pun saat dan ruang dalam kehidupan saya yang berlalu terlepas dan menjadi sia-sia  begitu sahaja. Setiap detik dan denyutnya adalah rahsia   yang selalu memberi makna.

Itulah indah dan hebatnya puisi. Yang kerananya juga menjadikan saya tidak berasa sunyi dan sendiri di dunia yang luas serta bising ini.

Siapalah saya tanpa puisi.  Saya masih ingat bagaimana 33 tahun yang silam, tepatnya sekitar bulan Mei 1977 saya yang ketika itu hanyalah seorang pemuda yang sedang diamuk gelisah mencari indentiti dirinya sendiri, tiba-tiba berasa menemukan jalan keluar untuk menyata  perasaan dan pendapatnya melalui sebuah puisi yang pendek dan padat.

Puisi berjudul "Harapan" dan disiarkan majalah Dewan Sastera, Mei 1979 itu hanya menyatakan: "jendela malam/ rumah pasungkah yang paling setia/ kuaklah kemuncakmu/ burung-burungku/ bersama apiku/ memerguk/ tertimbus."

Di situlah saya secara bersungguh menggulati puisi, selepas sekian tahun sebelumnya, sejak  di bangku tahun pertama sekolah menengah, bermain dengan kata dan perasaan sendiri,   untuk memahami dan mengenal apakah sesungguhnya yang dikatakan sebuah puisi.

Saya hanya ingin  bercerita dan mengimbas kembali kehadiran diri di dunia puisinya sendiri .  Selepas kurang lebih 33 tahun menggulatinya, kini saya semakin percaya dan sudah pun terbukti  betapa segala sesuatu yang digulati serta dihayatinya dengan sepenuh, jiwa dan raga, juga dengan kejujuran dan tanpa sebarang rasa pamrih atau mengharapkan pujian dan sanjungan yang tidak perlu,   pasti akhirnya akan beroleh juga ganjarannya dalam bentuk lain yang lebih bermaruah.

Memang sejak dulu saya sedar betapa sebagai penyair saya bukanlah seorang yang terlalu hebat dengan puisinya. Malah terus terang saya katakan, ketika menulisnya,   saya pun tidak pernah peduli apakah puisi saya itu hebat atau tidak. 

Tetapi, apa yang selalu saya perhatikan,  saya hanya ingin berlaku jujur dengan hati serta perasaan saya sendiri.  Saya hanya menulis sesuatu berdasarkan apa yang menyentuh hati, perasaan dan fikiran saya. Soal apakah nanti akan menjadi puisi yang hebat atau tidak, saya tidak pernah peduli.

Saya ke Korea dengan puisi.  Di belakangnya, saya tahu pemergian saya pastilah ini dengan dan kerana ketentuan yang ditetapkan oleh Allah SWT jua, yang dengan iradah serta kehendakNya telah menggerakkan juga hati sejumlah orang untuk berlembut hatinya menghulurkan bantuan membantu saya dengan cara apa pun.

Untuk itu, saya selalu tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada Pak Maman S Mahayana yang tidak pernah jemu membantu saya dalam segenap segi.   Juga sahabat saya yang kini bergelar Doktor, iaitu Lim Kim Hui.  Malah sebelumnya juga,  banyak lagi nama-nama lain yang ingin saya nyatakan ucapan terima kasih saya kepada mereka. 

Di Korea dengan puisi. Saya ke sana dengan diri yang sedia untuk melihat, mendengar dan belajar banyak perkara dan ilmu yang mungkin baru dan lebih mencabar dari siapa sahaja. Sebagai penyair yang ingin seadanya, saya hanya ingin tampil sebagai diri saya sendiri.  

Semoga saya tidak ditewaskan oleh cuaca yang semakin mendingin di sana dan semoga saya akan selalu dipelihara keselamatan dan kesejahteraannya oleh Allah SWT.

November 25, 2010

Selasa, November 23, 2010

Korea - ASEAN Poets Literature Festival

Cover Buku In The Drunk State
TANGGAL Ogos 20 yang lalu, saya  tidak terlalu terperanjat atau shock ketika  membaca email kiriman Dr. Lee Yeon dari Hankuk University of Foreign Studies kerana Pak Maman S Mahayana dan Dr. Lim Kim Hui yang juga sudah beberapa tahun selaku tenaga pengajar di universiti yang sama telah memaklumkan  melalui email mereka  akan berlangsungnya acara tersebut di Korea, tetapi tarikh sebenarnya belum dapat mereka pastikan.

Melalui emailnya itu, Dr. Lee Yeon yang merupakan salah seorang The Steering Committee of The Poet Society of Asia  atau ringkasnya TPSA memaklumkan akan berlangsung acara Korea-ASEAN Poets Literature Festival itu dari 2 hingga 7 Disember 2010 di  sana dan saya diundang menyertainya.

Untuk itu, saya diminta menulis dan mengirim ke urusetianya 1 esei dalam dua halaman dengan  single spasi  dan 7 sajak sebelum 13 September 2010.

Menulis atau menyediakan sajak bagi saya tidaklah terlalu sulit kerana saya memang sentiasa, tanpa perlu disuruh atau menunggu apa-apa permintaan,  menulis sajak demi sajak.  Begitu juga untuk menterjemahkannya ke bahasa Inggeris. Selain mesin penterjemah milik Google, saya meminta bantuan anak sulong saya yang memang pun pengkhususannya di bidang pengajaran bahasa ini.

Tetapi esei?  Lama saya termenung dan tercenung. Tema yang ditetapkan "Becoming: Dari manakah Anda datang? Di manakah Anda berada sekarang? Ke manakah Anda menuju kemudian?"

Pada mulanya saya menyiapkan sebuah esei yang antara lain fokusnya mengenai  kenapa ketika mahu berhubung dan berkomunikasi sesama jiran Asianya, bahasa Inggeris  tetap menjadi bahasa perantara dan bukan salah satu bahasa di Asia sendiri.

Namun saya berasa itu tidak menepati tema yang ditetapkan penganjur. Saya mengirim email kepada Dr. Lim Kim Hui dan Pak Maman di Korea dan meminta nasihat serta pandangan mereka.

Mereka juga berpendapat  tulisan itu tidak menepati tema dan menyarankan agar saya menyiapkan sebuah tulisan yang lain. Malah Dr. Lim Kim Hui, tanpa berselindung, mengatakan tulisan saya itu kalau kurang awas boleh menjadi sebuah tulisan berbau rasis di peringkat international.

Mengakuri nasihat mereka, dan pendapat anak yang sulong, saya akhirnya memutuskan untuk menulis sesuatu yang amat dekat dengan dunia dan kehidupan saya sendiri. Di mana saya lahir dan dibesarkan, setakat mana pendidikan saya, cita-cita saya dan ruang kehidupan sebagai seorang penyair di sebuah negeri yang sudah merdeka dan juga harapan-harapan saya di masa mendatang, juga sebagai atau atas nama seorang penyair .

Saya ingin bercerita seadanya sahaja.  Mengakui berterus terang apa yang saya tahu dan apa yang tidak saya miliki. Saya tidak ingin berlagak dan menyombongkan diri. 

Memasuki September, saya menerima email bertarikh 16 September dari Jang Mu-ryeong,  secretary general The Poet Society of Asia  yang menyampai surat undangan secara rasmi.

Selain dipinta mengirimkan foto dan salinan pasport antarabangsa, saya diperingatkan juga agar tidak keberatan membawa bersama karya terkini yang telah diterbitkan untuk dipamerkan  sepanjang acara di sana nanti.

Saya segera teringat kumpulan sajak saya DI NEGERI MABOK.  Malah memang beberapa sajak dari kumpulan ini juga telah diterjemahkan oleh anak saya. Jadi kenapa tidak saya  memilih semua sajak yang sudah diterjemahkan itu untuk dibukukan sebagai oleh-oleh  untuk dibawa ke Korea?  

IN THE DRUNK STATE.  Dengan pelbagai pengertian, dari sudut mana dilihat dan dipersepsikan, saya sangat menyukai judulnya. Bukan hendak mengutuk dan menghina  apa-apa. Sajak-sajak itu sekadar mahu menyedarkan  kita agar kembali menjadi manusia dan tidak terlalu tamakkan kuasa sehingga sanggup berbuat apa sahaja, walhal membunuh dan memfitnah sesama kaum bangsa seagama, semata-mata untuk mengekal kuasa di dalam genggaman.

Ya, dengan buku sajak ini saya akan ke Korea. Juga, dengan sejumlah pengalaman  yang sedia ada yang telah 3 kali keluar negara atas nama "Penyair".

Saya berusaha untuk tidak dan malah mengelak agar tidak tergiur mahu menjadi rasis yang kononnya bercakap atas nama agama, tetapi pada waktu sama memandang rendah setiap orang yang selain dirinya sendiri sahaja.

Cukuplah ketika di Korea nanti saya sekadar menjadi diri saya sendiri yang tidak perlu malu  mengaku kebodohan dan kekurangan dirinya sendiri.

Saya harap banyak yang akan saya dapati dan pelajari di Korea nanti.  Sepanjang di sana, saya berusaha untuk tetap terus menulis di blog saya ini.

Moga Allah merestui perjalananan pergi dan pulang saya nanti.

November 23, 2010

Rabu, Oktober 20, 2010

TIDAK MENGAPA

TIDAK perlu rusuh dan gelisah. Atau menjadi persoalan yang bingit dan besar. 

Saya tidak pernah pun menyuruh dan memaksa.   Soal mengerti dan faham itu memang pun milik peribadi dan siapa anda. Terserah anda.

Tidak perlu membentak  keyakinan anda terhadap orang lain atau kepada saya.

Carilah seramai mungkin pengikut. Tetapi tidak semestinya anda benar dan betul.

Kepada  yang tidak tahu dan mengerti dunia lakon dan topeng ini,  memanglah anda akan dipuja bagaikan wali.

Tetapi wali apa? Wali munafik?

Oktober 20, 2010

Rabu, Oktober 13, 2010

SAYA TIDAK MEMERLUKANNYA


TERSERAH Anda.

Saya tidak memerlukannya.  Kerana saya datang dan akan pergi sendiri.

Kalau dulu Anda antara mereka yang sama lantangnya berkoar dan kini menjadi sebahagian pula.

Terserah Anda.  Apa mahu berselindung di sebalik keduk atau mahu bertelanjang.

Bukan soal masa lalu atau masa kini. 

Saya tidak memerlukannya. Apa lagi kalau sekadar memperebutkan sesuatu yang dunia.

Oktober 13, 2010

Khamis, September 30, 2010

DI BELAKANG, DIA DIKEJI DIUMPAT


INI peristiwa tahun 1989. Sudah agak menghampiri akhir tahun. Lokasinya di sebuah rumah rehat di suatu  pantai peranginan.

Saya antara yang hadir sebagai seorang peserta dari kalangan  penulis kecil yang belum digolongkan tua,  yang dipilih   menghadiri sebuah bengkel atau worksyop penulisan puisi, anjuran sebuah universiti.  Berdasarkan dereten nama penceramahnya, saya  berasa diri sangat bertuah kerana diberi peluang menghadiri bengkel  penulisan ini.

Antara penceramahnya termasuklah seorang sasterawan yang sudah berusia, yang sangat saya kagumi dan hormati.

Walau pun bengkel penulisan ini lebih berbentuk ceramah demi ceramah, namun saya tidak sangat berasa terganggu kerana memang memilih untuk menjadi pencatat yang tekun dan setia setiap buah dan butir kata yang disampaikan penceramah, yang saya anggap bernilai dan berharga, yang saya yakin akan menjadi  panduan bagi  seorang penulis kecil seperti saya.

Tersebutlah kisahnya. Dari sekian jumlah ceramah, tibalah gilirannya   sasterawan yang sudah berusia itu  menyampaikan ceramahnya.

Saya tahu dan  rasanya tidak begitu lupa, ceramah sasterawan yang sudah berusia ini, sebahagiannya pernah saya dengar dahulu di suatu bengkel penulisan di Melaka dan sepintas-sepintas  di  suatu acara sastera di negeri bermastatutin saya. 

Namun bagi saya itu tidak apa-apa. Biarkanlah kalau hendak diulang ratusan kali sekalipun,  bagi saya itu masih tidak apa-apa. Kalau pun sudah dan pernah mendengar sebelumnya, saya yakin, pasti akan ada perubahan dari sudut dan sisi yang lain, atau kalau tidak pun, penambahan dan tambahan yang mungkin lebih terkini sifatnya.

Setidaknya juga, saya fikir ketika itu, kalau mendatangkan rasa bosan atau bencikan klise,  rasa hormat terhadap sasterawan yang sudah berusia itu janganlah sampai menjadi luntur.

Tetapi tentulah perasaan dan sikap saya tidak akan sama dengan peserta lain yang sama  hadir di bengkel penulisan itu.

Apa lagi kalau yang hadir itu adalah penyair yang sudah boleh dikatakan masyhur dan sudah menerbitkan beberapa buku sajaknya.  Atau kalau tidak pun, pesertanya adalah seorang yang sudah menulis sejumlah kritik dan ulasan dan bertugas di sebuah intitusi sastera pula.

Itulah yang berlaku.  Rasa tidak puas hati diluahkan juga oleh mereka yang saya maksudkan tadi dalam sesi penilaian  sebelum peserta menamatkan bengkel secara rasmi dan pulang ke destinasi masing-masing.

Dinyatakan mereka, mungkin dengan maksud menyindir  sasterawan yang sudah berusia itu, sesi berhikayat kisah lama secara berulang-ulang sepatutnya dihindarkan di dalam bengkel  penulisan di masa mendatang. Alasan mereka,  sebahagian peserta memang sudah mendengar hikayat itu berkali-kali  dan di mana-mana, jadi untuk dan perlu apa lagi  hendak diulang berkali-kali.

Kerana sasarannya memang jelas kepada siapa, tentu sahajalah sasterawan yang sudah berusia itu kembali membalas dengan jawapan. Katanya, dia berkisah bukan untuk mereka yang sudah tahu, tetapi untuk anak-anak dan teman peserta yang belum pun  pernah tahu.

Ketika kembali ke ibu kota, saya menumpang kenderaan salah seorang mereka, yang saya anggap sebagai "abang" dan memang pun saya tahu sebagai  berada di kalangan  penyair yang sudah terkenal itu. Selain saya, turut sama menumpang seorang penyair lain yang juga memang sudah pun terkenal dan tersohor juga.

Kerana sedar dan insaf siapa diri ini, saya memilih menjadi pendiam dan pendengar di sepanjang perjalanan.  Sesekali, andai ada sesuatu yang dipercakapkan mereka yang saya anggap berharga dan berguna, diam-diam cuba saya pahatkan di dalam benak dan ingatan  agar tidak lupa.  Dan tidak saya duga, kisah berhikayat itu  saya dengar diulangi lagi di antaranya.


Saya diam-diam di dalam hati menyimpulkan sendiri. Sasterawan memang suka mengumpat dan bergosip mengenai apa yang tidak mereka sukai mengenai sasterawan yang lain.   Tanpa peduli apakah ianya sesuatu yang benar atau hanya fitnah.

Tetapi yang saya kesalkan ialah bila sasterawan yang sudah sebegitu  berusia itu, pun sanggup juga mereka umpat dan keji secara sembunyi-sembunyi atau di belakang.

Saya tahu dan sedar penulis, seniman, penyair atau sasterawan pun manusia biasa. Namun itu bukanlah lesen untuk mereka berbuat sewenangnya, terutama atas nama sastera dan seni.

Memang apa hendak dihairankan. Memang begitu pun resam manusia. Dan bila setiap kali terkenangkan peristiwa ini, selalu saya memilih menjadikannya cermin buat diri saya melihat diri sendiri.

Kalau seorang  sasterawan yang sudah begitu berusia  dan dihormati ramai pun tega mereka  jadikan bahan umpat dan keji di belakang,  apalah  lagi kalau setakat saya seorang yang kecil ini.

Kerana itu jugalah, kalau memang atau pernah ada, saya tidak begitu berasa tersentuh untuk segala umpat serta keji.


September 30, 2010

Isnin, Ogos 30, 2010

BERSIAP DENGAN KEHILANGAN

AKU sudah memilih untuk sekadar menjadi air.  Begitu  kata saya  pada suatu senja yang semakin diselubungi gelap kepada dia. Tangan saya  letakkan di atas palang besi penghadang tepian sungai dan dia yang berdiri di samping  sekejap menoleh.

Sambil mata  tertumpu renungnya  ke arah sungai saya  berkata lagi.

Itu pilihanku kini. Aku tidak akan apa-apa. Perbuatlah apa sahaja. Kencingilah aku. Ludahilah aku. Atau  lepaskanlah tinja ke atas diriku. Namun aku tetap dan terus akan mengalir juga. Kerana begitulah sifatnya air.  Lembut dan cair, tetapi tidak mudah untuk mengalah. Kalau kau menghadang, alirku akan tetap  diteruskan juga, atau  aku akan  berkeluk ke arah yang lain. Tetapi, kalau nanti aku berubah menjadi banjir, bersiaplah menanggung akibah dan bencananya!

Begitu saya menamatkan bicara sambil mengacungkan tinju saya ke udara.

Dia yang berdiri di sebelah tidak sedikit pun bersuara. Dan saya melepaskan sebuah keluh. Apa yang sejak lama terasa berbuku dan menekan jiwa bagaikan sedikit mengurang dan terlepas sudah.

Kami bertemu di senja yang semakin gelap itu, seperti seringnya, untuk berbual dan saling berdiskusi mengenai arah dan hala tujuan kerja seni kami yang masih terkial-kial ini.  Kawan yang memang pun jumlahnya hanya sebelah telapak tangan satu demi satu  menghilang.  Alasannya, kesebokan dan keperluan mencari rezeki lebih diutamakan dari sekadar berfikir dan berpayah dengan seni.

Saya tidak menyalahkan mereka kerana memilih demikian. Saya tahu, berkerja untuk seni di sebuah kota kecil seperti kota yang kami diami ini, tidak menjanjikan sesuatu yang pasti. Apa lagi bila pegawai-pegawai yang menguruskan seni pula lebih mencari siapa yang lebih  setia sebagai penjilat dan pengangguk.

Kami bertempik dan membentak, selepas bosan mengeluh dan bersabar bila ruang untuk latihan menjadi ruang monopoli kumpulan penari yang dipelihara atas nama kumpulan seni dan budaya.  Lalu kami menjadi si bangsat dan perempat yang berlatih di bawah pokok di tepi pantai.  Puncanya, kerana kami tidak selalu ingin mengangguk dan menjilat, mengiyakan  apa sahaja suruh dan perintah para pegawai yang berasakan dirinya lebih bijak dan cerdik dari orang lain.

Dihenyak oleh duga sebegitu rupa, yang saya rasa lebih banyak belenggu dari memberikan ruang untuk meneruskan kreativiti, saya memutuskan untuk bergerak di luar kota kecil ini.   Walau saya tahu dugaannya lebih besar dan tegar, namun saya bersedia menghadapinya kerana saya tahu duga itu adalah duga yang akan cepat mematangkan jiwa saya sebagai seorang pekerja seni.

Aku tahu bukan di sini  tempatku. Tiada siapa yang akan dan mahu ambil peduli. Jadi kupilih untuk bergerak dan membesar di luar.

Begitu kata saya, tegas dan jitu.  Dan dia masih tetap tidak bersuara.

Peristiwa antara saya dan dia di senja yang semakin diselubungi gelap belasan tahun yang lalu itu masih segar di benak ingatan saya. 

Seperti juga pada waktu yang lain, di sebuah  kamar hotel beberapa tahun yang lalu, dia  begitu bersungguh berdebat dan mengemukakan hujah mahu menundukkan saya.  Alasannya, apa yang saya kononnya sedang "perjuangkan" hanyalah utopia dan sia-sia belaka.  Tiada apa pun akhirnya yang akan berubah atau mampu merubah dan malah itu akan menyebabkan saya dipandang serong oleh banyak pihak.

Memang saya agak berasa terganggu dengan cara diskusinya yang dimulai dengan mukaddimah yang amat panjang sebelum tiba ke pokok persoalan sebenar.   Apa yang  disebut serta diperjelaskan dalam mukaddimah itu adalah definisi yang bertele-tele, yang bagi saya banyak membazirkan waktu untuk suatu percakapan biasa.

Namun kerana sejak mula bukan niat saya hendak berdebat dengan sesiapa mengenainya,  saya memilih jalan tengah yang lebih mudah.

Tanpa definisi yang bertele-tele, saya sekadar bertanya.  Kata saya, cuba berikan jawaban yang ikhlas, apakah menjadi satu kesalahan dan kehinaan tatkala kita sebagai manusia yang bebas dan merdeka ini mahu menyatakan hasrat dan pandangan hidupnya  selagi tidak sampai mempersetankan agama, moral dan undang-undang?

Memang saya tahu dan sedar cara saya menjawab dan berhujah ketika itu tidak langsung mematuhi sebarang epistemelogi serta dengan teknik penalaran yang betul, namun saya tetap menuturkan juga kata demi kata sejujur hati saya kerana niat saya hanyalah mahu menyampaikan suatu maksud secara jelas.

Hampir separuh senja kami berdebat dan  kerana mahu menghormati  kawan, saya memaksa diri menjadi seorang pendengar yang taat dan mencatatkan apa-apa yang saya fikirkan penting. Saya tahu yang bercakap mengemukakan salah satu teknik berhujah dan berdebat yang dipelajarinya,  tetapi seperti selalu, saya lebih percaya dan yakin kepada ketulusan dan kejujuran hati sendiri ketika mengucapkan sesuatu.

Saya tahu dan sedar, ajakan untuk berdebat dan saling mematahkan hujah itu tidak lain adalah  satu usaha pendebat yang sia-sia  untuk memujuk saya agar  mengalah dan surut.

Tetapi saya tetap tidak berasa perlu untuk  mengalah kerana saya tidak pernah berniat untuk beroleh kemenangan apa-apa.  Jadi, kalah atau menang bukan yang ingin saya capai atau menjadi fokus. Sekali lagi saya tegaskan, saya hanya ingin menyatakan sesuatu maksud, seperti misalnya suka atau tidak suka terhadap sesuatu. Jadi apakah itu menjadi satu kesalahan dan keaiban atau perlu didebatkan begitu sesungguh hati?

Saya tahu ilmu saya tidak setinggi mana. Yang ada pada saya hanyalah rasa tulus dan meyakini bahawa apa yang saya sebutkan itu adalah sesuatu yang saya fikir perlu dibincang bersama untuk mencari benar atau salahnya.

Kerana itu jugalah, saya memilih untuk tidak melawan dan tidak kembali memperdebatkannya  bila sekali waktu ada sindirian kononnya saya terlalu ghairah mahu menjadi pemuka. 

Saya tidak sedikit pun perlu berasa aib kerana menyatakan betapa sudah sampai waktunya  setiap mereka yang memilih menjadi sasterawan mempertanyakan kembali sudah di mana keberadaan dirinya sendiri sebagai sasterawan. Sekadar mengulang-ulang apa yang sudah sedia ada, atau berusaha mencari cara dan bentuk pengucapan yang lebih baru?

Saya dengan penuh sedar menyedari siapa yang berada di sekeliling saya. Di antara mereka, siapa sebenarnya sahabat dan siapa sebenarnya si talam bermuka dua.

Sekali lagi, saya sekadar ingin menyatakan. Kalau ianya sesuatu yang tidak benar, tunjukkanlah jalan yang lebih benar. Saya boleh menerima kalau bukan yang datang adalah kecaman dan sindiran yang bagi saya lebih hina dan kurang bertamadun bila yang berbuat adalah mereka yang mengaku mengamalkan tauhid dan tinggi ilmunya.

Saya sepenuhnya sedar, kerana belajar mengenainya, di mana ruang saya berdiri dan siapa yang di sekeliling saya.  Walau sudah sejak mula mengetahui lewat ilmu duga dan firasat, tapi saya tidak pernah mahu menghukum sehingga belum tiba waktunya.

Jadi saya hanya diam dan sentiasa waspada. Sambil menanti benar-benar tiba hari yang diramalkan.

Walau kini, barangkali di mata banyak orang yang kurang arif bahawa saya seperti semakin kehilangan, namun saya sebenarnya sudah sejak lama bersedia menghadapi.

Hidup dan mati, datang dan pergi atau perpisahan adalah lumrah kehidupan dan saya tidak pernah ingin bersedih kerananya.

Saya tidak pernah berasa rugi walau tidak mendapat apa yang orang lain beroleh, semata-mata kerana saya tidak pernah ingin menjadi sebahagian mereka.

Saya mungkin kehilangan sesuatu, tetapi saya sebenarnya tidak pernah berasa rugi kerana kehilangannya.

Apa yang sedang terjadi di depan mata saya sendiri, semakin meyakinkan saya itu.

Kerana kita sebenarnya tidak pernah mahu mendahului tetapi lebih seronok menjadi pengulang masa sudah.

Tidak lain, kerana khuatir kalau tidak mendapat imbalan-imbalan dalam bentuk peribadi  yang boleh menyebabkan hidup menjadi  miskin dan papa.

Ya, saya memang tidak mendapat imbalan-imbalan dalam bentuk itu dari pihak-pihak tertentu, tetapi   saya masih tetap memiliki diri saya sendiri.

Dan yang penting, walaupun tidak kaya raya, namun saya pun tidak juga miskin dan papa kedana.

Merdeka!

Ogos 30, 2010 (Ramadhan 20)

Jumaat, Ogos 20, 2010

APA HASIL YANG DIPEROLEH?

MUNGKIN kerana ada waktunya saya agak suka juga menjadi pendengar keluh orang. Atau mungkin juga kerana  memang sudah tiada orang yang sudi hendak mendengar, maka hanya saya sahajalah pilihan yang ada. 

Walau apa pun, saya memang berasa simpati. Apa yang diceritakan, apa yang dia keluhkan, sudah saya lalui berbelas atau puluh tahun yang lalu. 

Semua itu memang menyakitkan hati dan perasaan, menyebabkan jiwa rasa tertekan dan malah sampai ke satu tahap kronik,  boleh menghilangkan selera makan dan boleh mengganggu kenyenyakan tidur di waktu malam.

Memang bagi setengah orang atau kalangan, apalah sangat kalau setakat dipergunjing, dikhianati dan disakiti hati serta  perasaan.  Itu dikatakan memang menjadi resam hidup dan perangai manusia yang sifatnya tidak pernah lepas dari perasaan hasad dan dengki kerana tidak mahu melihat orang lain melebihi kejayaan dirinya sendiri.  Atau lebih tepatnya lagi, kerana berasakan ada pihak yang sudah berani menceroboh dan mahu mengatasi penguasaan,  kedudukan dan ruang dirinya yang selama ini didiami dengan aman lagi selesa!

Untuk dan kerana itulah, taktik diatur untuk menjatuh dan melemahkan lawan. Walau untuk dan kerana itu, laku dan tindakannya mengalahkan perilaku seekor haiwan. Pelbagai taktik dan cara diperguna. Pelbagai topeng disarungkan ke wajah diri, walau kadang-kala menghapuskan langsung sifat maknusiawi diri.

Saya tahu bagaimana sakitnya hati dan perasaan bila berhadapan dengan situasi sedemikian.  Saya katakan begitu kerana 10 atau mungkin 15 tahun yang lalu saya juga pernah mengalaminya.

Ketika itu, hanya Allah sahaja yang tahu bagaimana sakitnya hati dan perasaan.  Di depan memang  mereka bermanis mulut dan mempamer wajah bersahabat, tetapi di belakang, mereka bersoksek  dan  tidak sudahnya mengumpat serta mengata.  Kalau sesuatu yang ada benar dan asasnya tidaklah mengapa. Tetapi kalau jelas hanya reka dan andai semata-mata, tetap berasa juga berbara di dalam jiwa.

Untuk apa? Saya sendiri pun tidak pasti entah untuk apa. 

Kalau katakan kerana hendak merebutkan pangkat atau kedudukan, pangkat dan kedudukan apa yang hendak mereka rebutkan di dalam sebuah persatuan kecil di peringkat daerah begitu?

Saya tidak pernah inginkan apa-apa dari sana. Saya hanya ingin berkawan, mengenal orang lain secara lebih dekat. Saya tidak sedikit pun tergiur untuk meraih apa-apa gelar  di situ. Cukuplah saya menjadi orang kecil dan biasa di sana.

Atau kerana hasad dan dengki? Hendak dengkikan apa? Seingat saya, saya datang bukan kerana mahu merampas ruang dan kedudukan sesiapa, tetapi hanya kerana ingin berkawan, berkenal dan berkongsi dan juga belajar sesuatu yang tidak saya miliki dari orang lain. Semata-mata kerana tidak mahu  sampai dikatakan bongkak dan sombong lantaran tidak  mahu berkawan dan mengenal orang lain.

Atau katakanlah kerana ketika di sana saya berjaya menerbitkan beberapa karya. Tetapi kenapa pula itu dijadikan sebab untuk menaruh dengki kepada saya? Bukankah itu kerana usaha dan gigih saya  dan mereka juga boleh mencapainya dengan usaha sendiri?

Atau, salahkah kalau saya tidak mahu bersikap pura-pura dengan mengatakan suka dan setuju terhadap sesuatu yang saya tidak suka dan enggan bersetuju dan kerana itu mereka berasa perlu untuk menyakiti dan menaruh hasad terhadap saya?

Saya tidak pandai hendak berbohong dan berpura-pura, berlagak baik dan sopan,  tidak mengatakan sesuatu yang kononnya akan melukakan hati orang lain, semata-mata kerana hendak mengambil hati atau mengampu seseorang.

Saya tahu kerana kepandiran saya itu, saya selau tidak disenangi dan dianggap si mulut celupar, kurang ajar, tidak tahu menghormati orang lain.  Tetapi apa yang boleh saya perbuat lagi. Biar apa pun, saya bersedia menerima segala risikonya.

Sejak kecil saya memang didik  agar berani berterus-terang walau terpaksa menerima risiko dan hukuman.

Apa lagi kalau saya sudah berbuat kesalahan. Saya mesti mengakui segala kesalahan saya tanpa sedikit pun mahu meletakkan salah itu pula ke bahu orang lain. Saya mesti bertanggungjawab memikul segala kesilapan dan kesalahan yang telah saya lakukan, sama ada yang sengaja atau yang tidak sengaja.

Apalah erti hidup sebagai manusia kalau saling berdusta dan menyembunyikan segala kebenaran. Begitulah saya yakin dan percaya. Dengan keyakinan diri dan kepercayaan sedemikianlah saya memilih jalan hidup.

Apa lagi tatkala memilih dunia sastera dan seni. Walau saya bukan pun seorang  tokoh besar dan hebat, juga bukan seorang yang terkenal serta telah melahirkan pelbagai karya hebat dan agung, saya percaya kebenaran dan kejujuran mestilah sentiasa dimekarkan di antara sesama.

Seorang seniman atau sasterawan tidak boleh bersifat munafik. Mengatakan sesuatu yang tidak dia perbuat atau memandang terlalu tinggi diri dan karyanya sendiri dan yang selain itu dianggap sebagai sampah atau najis.

Itulah yang menjadi pegangan serta keyakinan saya.

Tetapi kerana itu jugalah saya diumpat, difitnah dan dibenci.  Konon saya ini suka berlagak, kaki perasan, kaki gaduh, suka buat kecoh dan entah apa-apa lagi.


Saya bukan tidak boleh menerima tegoran. Tetapi kalau hanya bersoksek dan bergunjing dibelakang, mana saya tahu apa salah saya yang sebenar.  Kalau benar-benar ikhlas, tegorlah kesalahan saya. Tetapi anehnya, kenapa tiada?

Saya tahu bagaimana sakitnya hati dan perasaan menjadi mangsa umpat dan keji begitu. Saya katakan begitu kerana  saya sudah pun melaluinya.


Saya memang bersimpati dengan kawan yang datang mengadu itu. Tetapi setakat simpati sahajalah. Namun untuk memberikan nasihat dan petua, saya tidak berani. Sebabnya, saya takut kalau tersalah saya memberi nasihat dan petua, saya pula yang akan dipersalahkan.

Kerana itulah saya hanya sekadar menganguk dan mengangguk sebagai tanda saya memang benar-benar sedang mendengar.

Memang tergerak juga sesekali di dalam hati untuk saya memberikan sedikit nasihat kepada sahabat yang datang mengadu itu.

Tetapi sekali lagi, layakkah saya?

Berbanding dia, saya hanyalah seorang manusia yang banyak tidak tahunya. Sekolah saya tidak setinggi mana. Usahkan ke kolej, ke peringakt menengah pun tidak sampai tamat.

Kerana itu jugalah saya berasa malu hendak memberikan dia nasihat.

Walau pun teringin hendak saya katakan kepada dia supaya bersabar dan terus bersabar, kerana akhirnya, mereka yang tidak sudah-sudah mengumpat dan mengeji itu tidak juga mendapat suatu apa pun. 

Misalnya, ketika kini saya sudah menerbitkan tujuh atau lapan buah buku,  para pengumpat dan pengeji itu masih juga tidak menerbitkan apa-apa selain masih asyik dengan  "kerja"  dan "amal jariah" mereka.

Bezanya kini, mangsa mereka bukan lagi saya, tetapi dia, sahabat yang dataang mengadu itu.

Saya tahu, saya tidak dapat mereka tewaskan kerana saya tetap bertahan dengan apa yang saya yakini sejak mula. Saya yakin, sesuatu yang baik dan bermanfaat pasti akan dibalas dengan ganjaran yang baik juga oleh Allah yang Maha Mengetahui.

Tegasnya, saya tidak takutkan mereka para pengumpat dan pengeji itu kerana saya lebih  percayakan Allah yang lebih berkuasa dari segala kuasa di atas muka bumi ini.

Malah, kerana Allah juga, saya sanggup kehilangan roh dan nyawa demi mempertahankan prinsip dan kepercayaan yang saya yakini sebagai benar dan betul!

Saya harap, sahabat yang datang mengadu itu juga begitu. 

Ogos 20, 2010 (Ramadhan sepuluh)

Rabu, Ogos 18, 2010

SASTERA, HADIAH DAN SAYA

ANDAI tiada sebarang hadiah disedia dan akan diberikan kepada mana-mana karya sastera yang dirasakan layak diberikan hadiah oleh mana-mana pihak atau institusi, apakah dengan begitu saya tidak akan menulis?

Dengan tegas saya menjawab, tidak.

Seingat saya, ketika saya mula menulis secara lebih bersungguh-sungguh pada tahun 1975 dan beberapa tahun kemudian karya saya mula disiarkan,  apa yang saya fikirkan bukanlah soal ada atau tidaknya hadiah untuk karya sastera.

Sebaliknya, yang selalu menjadi igauan saya ketika itu adalah bagaimana mahu melahirkan sebuah karya sastera yang baik dan yang boleh memikat hati penjaga ruang sastera di akhbar dan majalah untuk disiarkan.

Saya tidak sepenuhnya sekadar ingin bernostalgia. 

Tahun 1975 bukanlah tahun 2010 yang mudah dan tersedia dengan segala ruang dan peluang: institusi dan ruang untuk belajar, kewangan dan kemudahan internet.

Sekitar tahun 1975, sebagai  pemula yang berminat dan berniat mahu menjadi penulis,  diri secara bersendirian mahu tidak mahu mesti bergulat dengan segala kekurangan dan memanfaatkan apa  yang ada. Segalanya ditempuh lewat latihan dan percubaan demi percubaan, belajar dari kesilapaan secara bersendirian, hanya dengan membaca dan membaca, tanpa sebarang guru selain diri sendiri.

Kerana itu jugalah, demi kerana niat dan hasrat itu,  keluhan digantikan dengan daya usaha yang tidak kenal hentinya.   Kesedihan dan rasa kesunyian diganti dengan usaha tidak kenal jemu untuk menanamkan rasa yakin dan percaya diri atau meraikan dari jauh kejayaan penulis atau pengarang lain yang karyanya berjaya mendapat tempat.

Memang agak lama rasanya menanti untuk melihat sebuah karya tulisan sendiri  kali pertama disiarkan.   Tahun 1979 adalah permulaannya. Sebuah sajak kecil saya disiarkan di majalah Dewan Sastera. Dan tahun yang sama juga, langkah kembara saya yang bercadang  memasuki Kuala Lumpur lewat KualaTerengganu dan berkereta api dari  Kelantan  ke sana, tersanggkut hanya di Kuala Terengganu.

Tetapi saya tidak begitu berasa kesal walau tidak ke Kuala Lumpur sekitar tahun itu kerana kini Kuala Lumpur adalah rumah  kedua saya.

Sejarah penerimaan hadiah sastera saya bermula pada tahun 1985,   berjarak kurang lebih enam tahun dengan tarikh tahun karya saya pertama kali disiarkan.  Tahun itu, sebuah   sajak kecil saya berjudul "Buku-Buku di Perpustakaan Ini" yang disiarkan di majalah Mastika di bawah kelolaan Wahba, antara yang meraih hadiah penghargaan Hadiah Sastera Utusan - Public Bank 1985.

Kerana menjadi salah seorang pemenang hadiah penghargaan di  tahun 1985 itulah maka saya mula mengenal Kuala Lumpur lebih dekat. 

Malah kalau tidak salah ingatan, tahun itulah kali pertama saya menjejakkan kaki ke Kuala Lumpur dan penyair Kemala, yang hanya saya kenali melalui surat,  berbaik hati menumpangkan saya bermalam di rumahnya dan menghantar saya ke tempat penyampaian anugerah di PWTC. 

Juga di majlis penyampaian hadiah itu jugalah saya kembali berjumpa dengan penyair Rudi Mahmood, yang sebelumnya saya temui di Hari Puisi 1981 di Kem Kijang, Pantai Cahaya Bulan. 

Itu kisah lama dan kalau mengenangnya, saya lebih ingin mengenang segala kebaikan orang-orang yang banyak menolong saya ketika pertama kali di Kuala Lumpur.

Kejadian-kejadian berikutnya juga adalah sejarah. Masih ada beberapa hadiah yang saya terima selepas tahun 1985. Sebahagiannya tidak saya hadiri dan hanya meminta bantuan  seorang yang lain yang juga sama meraih hadiah untuk menerima bagi pihak diri saya.

Terus terang saya sebenarnya tidak pernah bergiming mengenai ada atau tidaknya hadiah sastera. Kalau takdirnya ada dan saya dimurahkan rezeki menerima, akan saya terima. Tetapi andai tiada, saya fikir itu pun tidak begitu perlu untuk saya rusuhkan.

Sebagai seorang yang bermula sebagai penulis  dari sebuah dunia yang kosong dan hanya "berbakat alam", saya selalu cuba meletakkan diri sendiri di tempat yang sepatutnya.  Saya tidak ingin berlebih-lebihan dan hanya mahu menerima apa yang saya fikir memang  wajar dan patut saya terima. 

Kalau memang ada, nilailah karya saya sewajarnya dan berikanlah angerah kalau memang itu hak yang patut saya terima. Tetapi, jangan sekali-kali sampai menidakkan hak karya orang lain, yang kerana entah sebab seperti misalnya tidak kenal baik dengan panel penilainya, atau kerana pernah berdebat dengan seorang pegawai di sebuah institusi yang mengelolanya, maka dengan dalih licik haknya untuk menerima hadiah dinafikan.

Saya menyebutkan ini kerana sudah banyak dipercakapkan orang mengenai ini, malah pada satu waktu pernah berlaku kejadian bagaimana sebuah karya ditolak penilaiannya dengan alasan memuatkan karya yang tempohnya melebihi 10 tahun, walau hal yang sebenarnya tiada pun demikian.

Memang pun dengan anugerah boleh menjadi antara faktor pendorong semangat penulis.  Tetapi jangan sampai pula menjadi pertikaian yang tidak pernah usai bila masih ada karya yang lebih layak tidak diberikan hadiah ketimbang karya yang tidak.

Penulis  sekarang semakin bertambah cerdik dan peka. Mereka boleh mengesani dan tepat menduga sesuatu yang diada-adakan dengan sengaja.

Tetapi seperti yang saya katakan di awal tadi, ada atau tidak hadiah sastera, saya tetap begini juga. Kalau diberi saya terima dan kalau tidak, saya tetap akan menulis juga.

Kerana itu jugalah, saya langsung  tidak tergiur untuk mengisi borang dan mengirimkan salinan karya saya kepada sesiapa, semata-mata demi untuk memastikan karya saya akan dinilai dan kalau layak, akan menerima hadiah sastera.

Malah saya fikir itu semua hanyalah kerja sia-sia dan membuang waktu saya sebagai penulis. Saya katakan begitu kerana sepatutnya ada institusi yang melaksanakan tugas ini dan kalau itu tidak dilaksanakan, mereka sepatutnya berasa malu. Apa lagi kalau misalnya ada peristiwa karya yang tidak dikirim mendapat hadiah sedang yang dikirim langsung tidak disebut di dalam penilaian.

Apa erti semua ini?

Tetapi saya tidak peduli. Kalau mereka yang diberikan amanah mengenainya berasa diri mereka dewa atau nabi menentukan hidup dan mati hayat seorang penulis,   saya tidak pernah mahu ambil peduli.

Dan saya lebih tidak mahu ambil peduli andai mereka pun memang memilih  tidak pernah mempedulikan saya.

Ogos 18, 2010 (Ramadhan lapan)